Penunggu pohon nangka

13 Sep 2011

ngomong-ngomong tentang sarung, pasti akan terkenang dengan dunia masa kecil, termasuk aku. Sarung adalah teman mengaji di Musholla panggung dekat jalan raya, Musholla Al Ikhlas. Sarung ini selalu kupakai karena hanya ini satu-satunya sarung yang kumiliki. Rasanya gak enak kalau berangkat mengaji pakai celana panjang, gak enak aja dilihat oleh orang-orang di jalan.

Sarungku bermotif batik warna putih. Belakangan ini kuketahui nama motif sarung itu adalah “parang rusak”. Coba tanya saja google, motif parang rusak itu seperti apa.

Memang jaman segitu, motif batik masih belum menarik bagi kebanyakan orang. Kumandang Iqamat magrib sudah didengarkan. Jika dilihat dalam barisan sholat di musholla Al Falah, dari seluruh anak-anak yang ada, hanya sarungku saja yang bermotif batik. Sehingga sering terdengar cekikikan anak-anak shof belakang.

“Kok ada sarung nyasar dari pakem. Lainnya kotak-kotak, lha yang ini mlungker-mlungker.”

“Hanya emak-emak saja yang biasa pake jarik!”

“Masak jarik dipakai buat ngaji? pake buat nyuci baju sono”

Begitu celoteh teman-teman pas barisan shof sudah ditata. Ah sudahlah, gak usah diladeni, yang penting sholat dan ngaji ditunaikan. Kalau sampai bapak dan ibu tahu aku tidak ngaji bisa marah-marah.

Sepulang ngaji, sesudah sholat isya tepatnya, adalah waktu bermain yang bebas, biasalah, jalannya anak-anak pas lagi bandel, malam ngelayap. Main petak umpet di lapangan, masih menggunakan sarung tentunya.

Beruntung pada putaran pertama aku kebagian bersembunyi. Sedankan Darsono harus menghitung pada tiang listrik. Hahahaha aku dan teman-teman bersembunyi di pekarangan, berkerudung sarung masing-masing. Bersembunyi bergerombol, di pekarangan pisang. Gelap.
Saat itu tidak ada ide untuk bersembunyi menyendiri atau berpencar karena hitungannya terlalu cepat.

“hahahaha … kalian ketemu di sini” seru Darsono

Hah … kok bisa Darsono dengan sigap menemukan kami semua. Lhooo …

“Kamu sih, pakai sarung warna putih, jadi ketahuan deh tempat persembuyian kita.”

Kok jadi aku sih yang disalahin, kalau dah ketahuan ya memang jatahnya ketahuan. Untung saja bukan namaku yang disebut duluan, jadi aku masih bisa bersembuyi lagi pada putaran berikutnya. Yudi yang tadi namanya disebut pertama kali harus menghitung di tiang listrik. Sementara aku dan teman-teman yang lain bersembunyi.

Mengingat komentar teman-teman tadi, aku berinisiatif untuk memisahkan diri. Bersembunyi di balik pohon. Sendirian. Berkerudung sarung batik putih tersebut.

“Wah banyak nyamuk ini!” sambil aku menggerak-gerakan tangan mengusir nyamuk. Bergerak kesana kemari, bahkan beberapa kali menepok jidad sendiri karena banyaknya nyamuk. Benar-benar mengesalkan.

Ditunggu punya tunggu kok Yudi tidak mencari-cari aku ya. Lama sekali aku bersembunyi di sini, teman-teman juga tidak berusaha mencariku. Ahh lebih baik aku menuju lokasi permainan. Siapa tahu mereka berkumpul, ternyata teman-teman sudah pulang semua. Lhooo kok aku ditinggal begitu saja, akhirnya aku pulang saja.

———————-

Keesokan harinya.

“Eh, kemmarin pas saya sembunyi di balik rimbunan, saya melihat putih-putih bergerak-gerak” kata Darsono

“Eh serius?” sahut Dwi

“Iya, di pohon nangka itu, ada putih-putih gitu deh, Hiiyy! Saya colek Dwi yang ada di dekatku.”

“Whhaaa … “

“Trus ketemu yudi, yang sedang berada di tiang listrik. Saya ajak sekalian lihat putih-putih itu … Hiiyyy, masih ada di tempat.”

“Petak umpet dibubarkan saja sebelum kita ketemu hantu yang lebih besar lagi. Pulang” Seru Yudi

“Memang pohon nangka itu angker …”

“Hantu muncul di … “

” Iya …”

” @$@$#@ .. “

” … “

“Gleg!! … itu kan aku dengan sarung batik” Kataku dalam hati

Postingan ini diikutkan dalam kontes BERBAGI CERITA TENTANG SARUNG nya kakaakin
Semoga berkenan ya.


TAGS sarung masa kecil ngaji


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post