Pengalaman pertama berjualan

8 Nov 2011

Pengalaman pertama pastilah menarik untuk diceritakan. Begitu juga dengan pengalamanku berjualan pertama kali. Setelah kupikir dengan seksama, bahwa pengalamanku berjualan ini patut untuk dibagi dengan teman-teman yang ingin merintis dengan jalan berjualan.

Adalah diriku seorang mandor pabrik. Bekerja pada sebuah pabrik cukup lama dan mempunyai beberapa bawahan. Bekerja pada sebuah pabrik dan sistem yang sudah ada, dan digaji. Ada sebuah keinginan yang muncul, jika aku bekerja untuk diriku sendiri bagaimana rasanya ya.

Maka muncullah ide berjualan. Berjualan adalah cara awal yang paling mudah untuk bekerja pada diri sendiri. Maka segera aku putuskan untuk menjual shuttlecock, barng yang tidak banyak dipikirkan oleh banyak orang namun sangat dibutuhkan oleh pemain. bahkan atlet. Segera aku menghubungi pembuat shuttlecock kenalan bapak dulu. Dengan modal 600ribu aku memberanikan diri membeli barang, tidak banyak, hanya 20 slop, semoga ada keberuntungan buatku. Tidak lama kemudian barang yang kupesan sudah datang ke rumah, betapa gembiranya diriku. Tuhan memperlancar niat dan apa yang sedang aku usahakan.

Teringat aku akan petuah kakek bahwa hari baik untuk memulai suatu yang baik adalah hari jumat. Hari pilihan itu sudah jauh-jauh hari aku persiapkan, minggu ini, tepat pada hari jumat depan adalah tanggal merah artinya hari libur. Barang sudah tersedia, sudah dimasukkan ke dalam tas, tingga menunggu jalan saja.

Hari jumat telah datang. Dengan bersemangat aku bergegas keluar rumah membawa tas besar berisi shuttlecock. Semoga hari ini kubuka jalan sebuah usaha yang bagus dan membawa masa depan yang baik. Dalam hati lamat-lamat kupanjatkan doa kepada Tuhan, semoga Engkau menyertai perjalananku.

Kucoba berjalan ke arah barat, menuju kota Jakarta. Barangkali di jalan ada toko olahraga yang tidak terlihat olehku selama ini, untuk kutawari barang daganganku ini. Ya, berjalan kaki melihat ke kanan dan ke kiri. Namun pandangan mata tidak menemukan toko yang aku harapkan. Sepanjang jalan dipenuhi oleh rumah makan, toko keramik, toko onderdil mobil dan motor, dan toko stationary. Tidak terlihat adanya toko olahraga. Setelah berjalan sekitar 1 jam setengah, kaki mulai terasa capek. Mungkin aku butuh istirahat sejenak melemaskan kaki. Ternyata jadi berjualan itu tidak semudah yang aku bayangkan kemarin. Kini aku merasakan sendiri capeknya bawa barang berjalan di pinggir jalan. Dan kini aku beristirahat pada sebuah halte angkot untuk melemaskan kaki.

Udara langsung menyeruak, panas. Peluh langsung berhamburan di dahi. Keringat mengalir tatkala aku beristirahat. Tubuhku benar-benar panas terbakar matahari, hingga keringat bersusah payah keluar banyak untuk mendinginkannya. Debu berterbangan ketika sebuah angkot menderu meninggalkan halte. “Ternyata berjalan itu capek, mungkin aku harus menjelajah kota dengan menggunakan angkot saja.” Begitu batinku berkata.

Kuputuskan naik angkot dengan tujuan Jakarta. Tapi jakarta sebelah mana? Aku kan belum kenal dengan kota ruwet ini. Namun tujuanku sudah bulat, aku harus bisa. Di dalam angkutan kota mataku menoleh ke kanan dan kekiri. Semoga saja mataku ini menangkap sebuah toko olahraga ataupun peralatannya.

Angkot melaju membelah jalanan kota Jakarta.

Aku tidak memperdulikan kondisi jalan raya, sedang kacet atau tidak. Pandanganku terus tertuju pada deretan Toko dan Ruko di pinggir jalan.

Selang satu jam, terlihat juga sebuah toko olahraga. Toko itu berada di pojokan sebuah pertigaan. Bukan ruko, hanya sebuah bangunan kecil serupa warung pojok namun isinya peralatan olahraga,

Menyadari hal itu, spontan aku menghentikan angkot “Kiri bang, saya turun sini saja” begitu kataku. Sopir dengan sigap membelokkan mobilnya kekiri dengan tiba-tiba. Terdengar umpatan dari beberapa pengendara motor yang melewati sopir tersebut. “Sompret lo, Kalau minggir pake lampu sein kek”. Ada juga yang menggedor body angkot karena keselnya. Ups, ternyata minggir mendadak itu bukan kesalahan sopir saja. Aku juga ikut andil dalam kesalahan berkendara di jalan raya ini, ganasnya kota Jakarta. Pantas saja kota ini jadi ruwet karena secara tidak sadar aku juga berperan dalam kemacetan kota ini.

Angkot berhenti jauh dari toko yang terlintas dari pandanganku tadi. Aku harus berjalan kembali menemukan toko tersebut. Sesampai pada sebuah pertigaan. jam menunjukkan pukul 11 siang. Sekarang toko itu sudah di depan mata. Seingat saya toko tersebut bernama Kurnia Sport. Semoga hari ini adalah hari baik bagiku karena ini adalah penawaran pertama.

Seorang Bapak sedikit gemuk dengan wajah cuek, melirik sebentar ke arahku, kemudian sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Aku pikir dia adalah pemilik toko ini. “Ya Tuhan, saya mohon Engkau hadir bersamaku kali ini.” Batinku.

“Pak … ini … nganu …”

“Ya! ada apa?!”

“Ini … Mau nawarin barang.”

“Barang apa!”

“Shuttlecock pak.”

“Mereknya apa!”

“Nganu … eemm … Mereknya … Cahaya emas”
cahaya-emas

“Cahaya Emas? Kok saya gak pernah denger? Merek baru ya.”

“Ya begitulah pak.”

“Waah, kalau merek baru saya gak berani mas.”

Ah, penolakan spontan itu, benar-benar menohok ke ulu hati. Teringat aku pada suatu saat ada seorang mengetuk pintu rumah. Berpakaian hitam putih, memperkenalkan diri sebagai PKL. Menawarkan sebuah barang dengan harga 20ribu.

Lha kok kali ini aku merasakan hal yang sama. menawarkan sebuah barang dan berharap agar dia mau beli. Hanya saja aku berpakaian ala sales yang punya jam terbang tinggi, namun tetap saja rasa gugup dan gemetar menghadapi orang di depanku ini tampak. Rasa-rasanya kok aku merasa seperti orang PKL itu. Berpenampilan sales tapi baru, amatir, masih belajar dan belum berpangalaman. Ngomongnya gagap, takut-takut.

“To … tolonglah pak, dicoba dulu.”

“Gak bisa mas. Ini aja sudah banyak merek tapi penjualan hanya segitu-gitu aja.”

Aku terkejut, barisan merek shuttlecock dengan berbagai tipe terpampang. Ada banyak merek ternyata.

“Apalagi punyamu itu, merek baru. Pasti akan susah bersaing.” Jawabnya ketus, telak. Membuatku hilang semangat.

“Oo … Gitu ya pak.” Wajahku langsung murung.

“Kalau mau, kasih saya sample dulu 1 - 2 slop. Nanti kalau ada yang berminat, saya akan hubungi mas kembali.”

Enak saja. Sample? Aku aja belinya pake duit. Ini orang dengan gampangnya minta sample. Ya gak bisa gitu. Harus bayar lah. Aku kan baru mulai berusaha, masak sudah diminta sample.

“Ya, dicoba dulu pak. Beli 5 slop dulu barangkali nanti ada yang mau coba.” Aku masih mencoba berusaha menawarkan diri.

“Ini ada ada yang berani ngasih 50 slop dengan sistem kalau terjual nanti dibayar. kalau tidak laku barangnya ditarik kembali. Lha kamu? minta 5 slop dibayar kontan. Kalau jualan barang baru jangan di sini mas!”

Nyaliku langsung ciut. Gak berani lagi menghadapi orang itu. Dia telah sukses menghempaskan semangatku.

“terima kasih pak atas waktunya.”

Keluar dari toko, langit serasa gelap. Padahal siang itu sedang panas-panasnya. Ingin sekali rasanya menangis. Ini tidak adil, mengapa Tuhan tidak menolongku disaat aku sedang memulai. Malah membuat aku jatuh dengan rasa penolakan yang tidak ada belas

kasihan. Duh Gusti, langkah awal kok gatot begini, gagal total.

Harapanku ada penjualan barang 1 atau 2 slop dari 1 toko ini tidak tercapai sama sekali. Katanya hari jumat ini hari baik, kok langkah awalku ini malah gagal. Maka hari itu aku putuskan untuk tidak melanjutkan mencari toko. Percuma saja, hari baik tidak mendatangkan hasil baik. Begitu kira-kira rasa hatiku.

Dalam perjalanan gontai, terdengar sebuah tarhim dari kejauhan, menandakan adzan jumat segera dikumandangkan. Kucari asal suara tarhim tersebut.

Pada sebuah masjid aku bersimpuh. Bersama ratusan orang sholat berjamaah.

Selesai sholat jumat hati sedikit tenang.

Namun aku masih berjalan lesu. Mengingat kata-kata orang penjaga toko tadi. Benar-benar menyakitkan.

Mungkin Tuhan sedang mencoba dengan sebuah kegagalan kali ini. Tuhan memberikan pelajaran bahwa di dalam sebuah kegagalan ada hal-hal yang harus diperbaiki di kemudian hari.

Masih ada hari besok dan minggu untuk mencoba lagi dan lagi. Tuhan akan memberikan keberhasilan bagi mereka yang mau mencoba, bukan kepada mereka yang menyerah.

Photobucket


cerita ini diikutkan pada kontes memeriahkan My First Giveaway: PengalamanPertama yang di adakan oleh Mba Una


TAGS berjualan kontes pribadi


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post