• 13

    Sep

    Penunggu pohon nangka

    ngomong-ngomong tentang sarung, pasti akan terkenang dengan dunia masa kecil, termasuk aku. Sarung adalah teman mengaji di Musholla panggung dekat jalan raya, Musholla Al Ikhlas. Sarung ini selalu kupakai karena hanya ini satu-satunya sarung yang kumiliki. Rasanya gak enak kalau berangkat mengaji pakai celana panjang, gak enak aja dilihat oleh orang-orang di jalan. Sarungku bermotif batik warna putih. Belakangan ini kuketahui nama motif sarung itu adalah “parang rusak”. Coba tanya saja google, motif parang rusak itu seperti apa. Memang jaman segitu, motif batik masih belum menarik bagi kebanyakan orang. Kumandang Iqamat magrib sudah didengarkan. Jika dilihat dalam barisan sholat di musholla Al Falah, dari seluruh anak-anak yang ada, hanya sarungku saja yang bermotif batik. Se
-

Author

Follow Me

Search

Recent Post